Identifikasi Faktor – Faktor yang Berhubungan dengan Frekuensi Eksaserbasi dan Rawat Inap pada Pasien PPOK : Literature Review

Authors

  • Fidela Yolan Dani Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung, Indonesia
  • Atri Sri Ulandari Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung, Indonesia
  • Dwi Aulia Ramdini Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung, Indonesia
  • Rani Himayani Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.69930/jrski.v3i4.845

Keywords:

PPOK; Eksaserbasi; Rawat Inap; Faktor Risiko; Literature Review

Abstract

Pendahuluan: Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) ditandai dengan hambatan aliran udara kronis yang sering mengalami eksaserbasi akut dan memerlukan rawat inap. Kejadian rawat inap ulang (readmission) menjadi masalah utama dalam manajemen penyakit ini karena meningkatkan risiko mortalitas. Temuan dalam literature review ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 mengenai Good Health and Well-being melalui upaya penurunan kematian dini akibat penyakit tidak menular (Target 3.4), peningkatan cakupan pelayanan kesehatan (Target 3.8), pengurangan dampak polusi udara terhadap kesehatan (Target 3.9), serta SDG 11 mengenai pembangunan kota dan permukiman berkelanjutan melalui pengendalian kualitas udara. Tujuan: Literature review ini bertujuan menelaah penelitian ilmiah terkini mengenai determinan yang memengaruhi kejadian eksaserbasi dan rawat inap pada pasien PPOK. Metode: Penelitian ini merupakan literature review dengan sumber data artikel original research dari Google Scholar dan PubMed dalam rentang waktu 2017-2025. Terdapat 10 artikel yang memenuhi kriteria inklusi untuk ditelaah secara kritis. Hasil: Hasil telaah menunjukkan bahwa rawat inap dipengaruhi oleh faktor demografi seperti usia, jenis kelamin laki-laki, dan riwayat merokok. Pada faktor klinis, keberadaan komorbiditas (jantung dan diabetes), derajat keparahan (FEV1%, skor BODE/CAT), serta lama menderita PPOK menjadi prediktor utama. Penelitian lain menunjukkan peran kadar eosinofil rendah (< 2%), peningkatan indikator inflamasi, serta faktor psikososial yang mencakup keterbatasan aktivitas harian (BADL) dan kurangnya dukungan keluarga dalam meningkatkan frekuensi rawat inap. Simpulan: Eksaserbasi dan rawat inap PPOK dipengaruhi oleh faktor demografi, kondisi klinis, biomarker, dan dukungan sosial. Manajemen pasien memerlukan penanganan pada aspek medis paru, penyakit penyerta, serta penguatan dukungan perawatan di rumah.

Downloads

Download data is not yet available.

Downloads

Published

2026-07-15

How to Cite

Dani, F. Y., Atri Sri Ulandari, Dwi Aulia Ramdini, & Rani Himayani. (2026). Identifikasi Faktor – Faktor yang Berhubungan dengan Frekuensi Eksaserbasi dan Rawat Inap pada Pasien PPOK : Literature Review. Jurnal Riset Sains Dan Kesehatan Indonesia, 3(4), 214–224. https://doi.org/10.69930/jrski.v3i4.845